Selasa, 22 Maret 2016

PROGRAM BERKAITAN DENGAN BUDAYA DAN IKLIM SEKOLAH YANG KONDUSIF DAN INOVATIF BAGI PEMBELAJARAN (bab3)



BAB III
PROGRAM
BERKAITAN DENGAN BUDAYA
DAN IKLIM SEKOLAH YANG KONDUSIF
DAN
INOVATIF BAGI PEMBELAJARAN
SMP NEGERI 2 CIDAHU
TAHUN PELAJARAN 2015-2016


A. Budaya Sekolah SMP Negeri 2 Cidahu
SMP Negeri 2 Cidahu Kabupaten Kuningan merupakan suatu organisasi, memiliki budaya tersendiri yang dibentuk dan dipengaruhi oleh nilai-nilai, persepsi, kebiasaan-kebiasaan, kebijakan-kebijakan pendidikan, dan perilaku orang-orang yang berada di dalamnya. Sebagai suatu organisasi, sekolah ini menunjukkan kekhasan, yaitu pembelajaran. Budaya sekolah semestinya menunjukkan kapabilitas yang sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Konsep budaya sekolah masuk ke dalam pendidikan itu pada dasarnya sebagai upaya untuk memberikan arah tentang efisiensi lingkungan pembelajaran, lingkungan dalam hal ini dapat dibedakan dalam dua hal (1) lingkungan yang sifatnya alami sesuai dengan budaya siswa dan guru, (2) lingkungan artificial yang diciptakan oleh guru atau hasil interaksi antara guru dengan siswa.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekitar sekolah. masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di masyarakat luas. budaya sekolah sebagai karakteristik khas sekolah yang dapat didefinisikan melalui nilai yang dianutnya, sikap yang dimilikinya, kebiasaan-kebiasaan yang ditampilkannya, dan tindakan yang ditunjukkan oleh seluruh personel sekolah yang membentuk satu kesatuan khusus dari sistem sekolah. Menurut Riduwan (2012:109) bahwa “ budaya sekolah yang kerap disebut dengan iklim kerja yang menggambarkan suasana dan hubungan kerja antara sesama guru, antara guru dan kepala sekolah, antara guru dengan tenaga kependidikan lainnya serta antar dinas dilingkungannya merupakan wujud dari lingkungan kerja yang kondusif”.
Sekolah sebagai suatu organisasi, memiliki budaya tersendiri yang dibentuk dan dipengaruhi oleh nilai-nilai, persepsi, kebiasaan-kebiasaan, kebijakan-kebijakan pendidikan, dan perilaku orang-orang yang berada di dalamnya. Sebagai suatu organisasi, sekolah menunjukkan kekhasan, yaitu pembelajaran. Budaya sekolah semestinya menunjukkan kapabilitas yang sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan. Konsep budaya sekolah masuk ke dalam pendidikan itu pada dasarnya sebagai upaya untuk memberikan arah tentang efisiensi lingkungan pembelajaran, lingkungan dalam hal ini dapat dibedakan dalam dua hal (1) lingkungan yang sifatnya alami sesuai dengan budaya siswa dan guru, (2) lingkungan artificial yang diciptakan oleh guru atau hasil interaksi antara guru dengan siswa.

B. Lingkungan Sekolah
Lingkungan diartikan sebagai kesatuan ruang suatu benda, daya, keadaan dan mahluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya (Munib, 2005:76).  yang dimaksud lingkungan pendidikan meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life processes.
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal adlam satu lingkungan yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak. Pada dasarnya lingkungan mencakup lingkungan fisik, lingkungan budaya, dan lingkungan sosial.
Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses pendidikan(pakaian, keadaan rumah, alat permainan, buku-buku, alat peraga, dll) dinamakan lingkungan pendidikan. lingkungan pendidikan dapat diartikan sebagai faktor yang berpengaruh terhadap pendidikan atau berbagai lingkungan tempat berlangsungan proses pendidikan.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam interaksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya, utamanaya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang optimal.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa lingkungan sekolah adalah kesatuan ruang dalam lembaga pendidikan formal yang memberikan pengaruh pembentukan  sikap dan pengembangan potensi peserta didik.

C.  Iklim Sekolah
Menurut Hoy & Miskel (dalam Masaong & Tilomi, 2011:181) bahwa “Iklim sekolah merupakan seperangkt karakteristik suatu sekolah yang membedakan dengan sekolah lain dan karakteristik itu akan mempengaruhi perilaku guru, staf, siswa dan stakeholderi lainnya yang ada pada sekolah tersebut”. Sedangkan menurut Sergiovani (dalam Masaong & Tilomi, 2011:181) bahwa “iklim sekolah sebagai sebuah konsep kelompok yang tidak lebih dari persepsi seseorang, perasaan, atau interpretasi kehidupan dalam suatu sekolah”. Serta menurut ownes (dalam Masaong & Tilomi, 2011:181) “menjelaskan : organizational climate is the study of perceptions that individuals have of the environment in the organization. Pengertian tersebut mengisyaratkan, bahwa iklim sekolah berkaitan erat dengan persepsi yang dimiliki oleh individu guu, staf dan siswa disekolah”. iklim sekolah dapat mempengaruhi: (1) proses belajar mengajar, (2) sikap dan moral (3) kesehatan mental, (4) produktivitas, (5) perasaa percaya, (6) perubahan dan pembaharuan (halpin & croft, 1971). Karakteristik iklim sekolah dapat dilihat dari beberapa aspek sebagai berikut : (1) kesesuaian; berkaitan erat dengan perasaan yang ada terhadap tuntutan dari luar sekolah, persepsi tentang banyaknya peraturan, prosedur, kebijakan dan pelaksanaan tugas; (2) taggung jawab; mencakup pemberian tanggungjawab untuk mencapai tujuan sekolah, pembuatan keputusan dalam menyelesaikan masalah; (3) standart; meliputi penekanan pada kualitas/prestasi dan hasil yang lebih baik; (4) penghargaan; yaitu merasa diakui dan dihargai karena semanga kerja dan kinerjanya yang tinggi, dikritik atau dihukum pada saat kesalahan; (5) kejelasan struktur sekolah; yaitu diorganisir dengan baik, tujuan dirumuskan secara jelas dan tidak membingungkan (6) kehangatan dan dukungan; meliputi saling percaya dan saling mendukung; (7) kepemimpinan; yakni keinginan guru dan staf untuk menerima pengaruh dan pengarahan dari sosok yang berkualitas. (Campbell, Dunnete, Lawler, & Weick, 1970. Dubrin: 1984, Pugh: 1976, dalam Masaong & Tilomi, 2011:182).

D.  Prinsip-prinsip Manajemen Budaya dan Lingkungan Sekolah
Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Dimensi ini menuntut para guru, staf dan kepala sekolah tarmpil, profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua dan masyarakat. Menurut Mulyasa (2010:90) upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini :
1.      Berfokus pada Visi, Misi, dan Tujuan sekolah.
Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan bisi, misi, dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembagnan budaya sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah.
2.      Penciptaan komunikasi Formal dan Informal.
Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyamaikan pesan-pesan pentingnnya budaya sekolah, termasuk dalam meyampaikan pesan-pesan pentingnnya budaya sekolah, komunikasi informal sama pentingnnya dengan komunikasi formal. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.
3.      Inovatif dan bersedia mengambil resiko.
Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat.
4.      Memiliki strategi yang jelas.
Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program. Strategi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyengkut kegiatan oerasional yang perlu dilakukan. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan.
5.      Berorientasi kinerja.
Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang terdapat mungkin dapat diukur. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja darsuatu sekolah.
6.      Sistem evaluasi yang jelas.
Untuk mengetaui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap : jangka pendek, sedang, dan jangka panjang. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal kapan evluasi dilakukan, siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan.
7.      Memiliki komitmen yang kuat.
Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menetukan implementasi program-program pengembagnan budaya sekolah. Banyak bukti menunjukan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana degnan baik.
8.      Keputusan berdasarkan consensus.
Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengambilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara consensus. Meskipun hal itu tergantung pada pengambilan keputusan , namun pada umumnya consensus dapat meningkatkan komitmen anggortta organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut.
9.      Sistem imbalan yang jelas.
Pengambilan budaya sekolah hendaknnya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah.
10.  Evaluasi diri,
Merupaka salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi disekolah. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Kepala sekolah dapat mengembagnkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah.




E.  Asas-asas Pengembangan Budaya dan Lingkungan Sekolah
Selain mengacu kepada sejumlah prinsip di atas, Menurut Samsudin dalam sebuah blog (2011) mengatakan upaya  pengembangan budaya sekolah juga seyogyanya berpegang pada asas-asas berikut ini:
1.      Kerjasama tim (team work).
Pada dasarnya sebuah komunitas sekolah merupakan sebuah tim/kumpulan individu yang bekerja sama untuk mencapai tujuan. Untuk itu, nilai kerja sama merupakan suatu keharusan dan kerjasama merupakan aktivitas yang bertujuan untuk membangun kekuatan-kekuatan atau sumber daya yang dimilki oleh personil sekolah.
2.      Kemampuan.
Menunjuk pada kemampuan untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawab pada tingkat kelas atau sekolah. Dalam lingkungan pembelajaran, kemampuan profesional guru bukan hanya ditunjukkan dalam bidang akademik tetapi juga dalam bersikap dan bertindak yang mencerminkan pribadi pendidik.
3.      Keinginan.
Keinginan di sini merujuk pada kemauan atau kerelaan untuk melakukan tugas dan tanggung jawab untuk memberikan kepuasan terhadap siswa dan masyarakat. Semua nilai di atas tidak berarti apa-apa jika tidak diiringi dengan keinginan. Keinginan juga harus diarahkan pada usaha untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai budaya yang muncul dalam diri pribadi baik sebagai kepala sekolah, guru, dan staf dalam memberikan pelayanan kepada siswa dan masyarakat.
4.      Kegembiraan (happiness).
Nilai kegembiraan ini harus dimiliki oleh seluruh personil sekolah dengan harapan kegembiraan yang kita miliki akan berimplikasi pada lingkungan dan iklim sekolah yang ramah dan menumbuhkan perasaan puas, nyaman, bahagia dan bangga sebagai bagian dari personil sekolah. Jika perlu dibuat wilayah-wilayah yang dapat membuat suasana dan memberi nuansa yang indah, nyaman, asri dan menyenangkan, seperti taman sekolah ditata dengan baik dan dibuat wilayah bebas masalah atau wilayah harus senyum dan sebagainya.
5.      Hormat (respect).
Rasa hormat merupakan nilai yang memperlihatkan penghargaan kepada siapa saja baik dalam lingkungan sekolah maupun dengan stakeholders pendidikan lainnya. Keluhan-keluhan yang terjadi karena perasaan tidak dihargai atau tidak diperlakukan dengan wajar akan menjadikan sekolah kurang dipercaya. Sikap respek dapat diungkapkan dengan cara memberi senyuman dan sapaan kepada siapa saja yang kita temui, bisa juga dengan memberikan hadiah yang menarik sebagai ungkapan rasa hormat dan penghargaan kita atas hasil kerja yang dilakukan dengan baik. Atau mengundang secara khusus dan menyampaikan selamat atas prestasi yang diperoleh dan sebagaianya.
6.      Jujur (honesty).
Nilai kejujuran merupakan nilai yang paling mendasar dalam lingkungan sekolah, baik kejujuran pada diri sendiri maupun kejujuran kepada orang lain. Nilai kejujuran tidak terbatas pada kebenaran dalam melakukan pekerjaan atau tugas tetapi mencakup cara terbaik dalam membentuk pribadi yang obyektif. Tanpa kejujuran, kepercayaan tidak akan diperoleh. Oleh karena itu budaya jujur dalam setiap situasi dimanapun kita berada harus senantiasa dipertahankan. Jujur dalam memberikan penilaian, jujur dalam mengelola keuangan, jujur dalam penggunaan waktu serta konsisten pada tugas dan tanggung jawab merupakan pribadi yang kuat dalam menciptakan budaya sekolah yang baik.
7.      Disiplin (discipline).
Disiplin merupakan suatu bentuk ketaatan pada peraturan dan sanksi yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Disiplin yang dimaksudkan dalam asas ini adalah sikap dan perilaku disiplin yang muncul karena kesadaran dan kerelaan kita untuk hidup teratur dan rapi serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada kondisi yang seharusnya. Jadi disiplin disini bukanlah sesuatu yang harus dan tidak harus dilakukan karena peraturan yang menuntut kita untuk taat pada aturan yang ada. Aturan atau tata tertib yang dipajang dimana-mana bahkan merupakan atribut, tidak akan menjamin untuk dipatuhi apabila tidak didukung dengan suasana atau iklim lingkungan sekolah yang disiplin. Disiplin tidak hanya berlaku pada orang tertentu saja di sekolah tetapi untuk semua personil sekolah tidak kecuali kepala sekolah, guru dan staf.
8.      Empati (empathy).
Empati adalah kemampuan menempatkan diri atau dapat merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain namun tidak ikut larut dalam perasaan itu. Sikap ini perlu dimiliki oleh seluruh personil sekolah agar dalam berinteraksi dengan siapa saja dan dimana saja mereka dapat memahami penyebab dari masalah yang mungkin dihadapai oleh orang lain dan mampu menempatkan diri sesuai dengan harapan orang tersebut. Dengan sifat empati warga sekolah dapat menumbuhkan budaya sekolah yang lebih baik karena dilandasi oleh perasaan yang saling memahami.

9.      Pengetahuan dan Kesopanan.
Pengetahuan dan kesopanan para personil sekolah yang disertai dengan kemampuan untuk memperoleh kepercayaan dari siapa saja akan memberikan kesan yang meyakinkan bagi orang lain. Dimensi ini menuntut para guru, staf dan kepala sekolah tarmpil, profesional dan terlatih dalam memainkan perannya memenuhi tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua dan masyarakat.


F.  Karakteristik Budaya dan Lingkungan Sekolah
Menurut Masaong & Ansar (2011:190) bahwa “budaya sekolah memiliki empat karakteristik yaitu: (1) budaya sekolah bersifat khusus karena masing masing sekolah memiliki sejarah, pola komunikasi, sistem dan prosedur, pernyataan visi dan misi, (2) budaya sekolah pada hakikatnya stabil dan biasanya lambat berubah. Budaya sekolah akan berubah bila ada ancaman krisis dari sekolah yang lain, (3) budaya sekolah biasanya memiliki sejarah yang bersifat implisit dan idak eksplisit, (4) budaya sekolah tampak sebagai perwakilan simbol yang melandasi keyakinan dan nilai-nilai sekolah tersebut”.
Selain itu menurut Chatab (2011:15) Karakteristik budaya sekolah dapat dipandang menurut hirarki basic assumption, values, norms, dan artifacts sebagai berikut :
a.       Basic Assumption/Asumsi Dasar
kepedulian budaya pada tingkat yang paling dalam ini adalah pra anggapan dasar dibawah sadar dan sekaligus keadaan yang diterima tentang bagaimana persoalan sekolah seharusnya dipecahkan. basic assumption ini membertahu para anggota organisasi bagaimana merasakan, berfikir dan adanya sentuhan tentang banyak hal di dalam organisasi
b.      Values
Level kepedulian berikut mencakup values tentang sebaiknya menjadi apa dalam organisasi. Values memberitahu ara anggota apa yang penting dan berharga di dalam organisasi dan apa yang mereka butuhkan untuk member perhatian. Values merupakan keyakinan dasar yang berperan sebagai sumber inspirasi kekuatan dan pendorong seseorang dalam mengambil sikap, tindakan dan keputusan, serta dalam menggerakkan dan mengendalikan perlilaku seseorang dalam upaya pembentukan budaya sekolah.
c.       Norms
Para guru jangan mengkritik kepala sekolah di depan publik! Mengapa? Jawabannya adalah norma. Peran norma adalah menuntun bagaimana para anggota organisasi seharusnnya berkelakuan didalam situasi tertentu. Hal ini menggambarkan peraturan yang tidak tertulis dari perilaku. Setiap kelompok menetapkan norma sendiri, yaitu standar perilaku yang dapat diterima, yang dibagi dengan para anggotannya. Norma memberitahukan para anggota apa yang sebaiknnya dan tidak sebaiknnya untuk melakukan diobawah keadaan tertentu. Ketika disetujui dan diterima oleh kelompok, norma bertindak sebagai sarana mempengaruhi perilaku anggota kelompok dengan minimum pengendalian dari eksternal. Norma berbeda diantara kelompok, komunitas ataupun organisasi.
d.      Artifacts
Artifacts ini merupakan wujud kongkrit seperti sistem, prosedur, sistem kerja, peraturan, struktur dan aspek fisik dari organisasi. Istilah sistem kerja menunjukan bagaimana pekerjaan dari organisasi dilaksanakan. Berdasarkan karakteristik budaya tersebut, Chatab (2011:17) berpendapat bahwa mendiagnosis budaya sekolah, dapat dilakukan dengan pendekatan : a) perilaku, terkait dengan pola perilaku yang memproduksi hasil atau kegiatan. Pendekatan ini menggambarkan secara spesifik tentang bagaimana tugas dilaksanakan dan bagaimana interaksi dikelola dalam organisasi. Suatu pekerjaan menunjukan tanggungjawab, wewenang dan tugas individu. b) nilai bersaing, yang dipandang dari preferensi dan tata nilai dari para anggotanya. c) Asumsi mendalam, terkait dengan penekanan penting yang paling dalam organisasi, umumnya tidak dapat ditelaah, namunterdapat asumsi bersama dan sama-sama tahu bagaimana menuntun perilaku para anggotanya. pendekatan ini sering memiliki dampak yang perkasa bagi keefektifan sekolah.

G.  Sasaran dan Tujuan Pengembangan Budaya dan Lingkungan Sekolah
Menurut Mulyasa (2011:92) manajemen iklim budaya sekolah merupakan salah satu kebijakan yang harus diperhatikan Depdiknas dalam rangka peningakatan mutu pendidkan. Iklim budaya sekolah yang kondusif diharapkan dapat menunjang proses pembelajaran yang efektif, sehingga semua pihak yang dapat menunjang proses pembelajaran yang efektif, sehngga semua pihak yang terlibat didalamnnya, khususnya peserta didik merasa nyaman belajar. Dengan demikian , akan tercipta pembelajran yang efektif dan menyenangkan. Iklim budaya sekolah yang kondusif juga akan mebangkitakan semagant belajar, dan akan mebangkitkan potensi-potensi peserta didik sehingga dapat berkembang secara optimal.
Menurut Mulyasa (2011:92) sasaran iklim budaya sekolah dapat dianalisis dari hal-hal sebagai berikut :
1.      Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni berlangsung setiap saat, begitu cepatnnya perkembagnan tersbut sehingga sulit diikuti oleh mata telanjang.
2.      Perkembagnan penduduk yang cepat mebutuhkan pelayanan pendidikan yang besar
3.      Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan modal dasar sekaligus menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional jika sumber-sumber daya manusia atau tenaga kerja Indonesia dalam jumlah yang besar dapat ditingkatkan mutu dan pendayagunaanya.
4.      Perkembangan teknologi informasi yang berlangsung begitu cepat telah menimbulkan berbagai pemikiran, bukan saja dalam dunia bisnis dan ekonomi, melainkan juga dalam dunia pendidikan. Untuk menghadapi tantangan masa depan sebagai akibat dari kemajuan dan perkembangan teknologi, sekolah harus menginspirasi hubungan antar Negara yang semakin erat, seakan tiada batas lagi.

H.  Manfaat Pengembagan Budaya dan Lingkungan Sekolah
Menurut Chatab (2007:11) budaya sekolah bermanfaat sebagai : a) identitas, yang merupakan ciri atau karakter organisasi, b) pengikat/pemersatu seperti bahasa sunda yang bergaul dengan orang sunda, sama hobi olahraganya, c) sources,misalnya inspirasi, d) sumber penggerak dan pola perilaku, c) kemapuan meningkatkan nilai tambah, f) pengganti formaslisasi, seperti olahraga rutin jumat yang tidak dipaksa, g) mekanisme adaptasi terhadap perubahan seperti adanya rumah susun. Sedangkan menurut Luthans (dalam Chatab, 2007:11) pentingnya budaya organisai mencakup sebagai berikut : a) keteraturan perilaku yang dijalankan, b) norma, sperti standar perilaku yang ada disekolah, c) nilai yang dominan, seperti mutu lulusan yang tinggi, efisiensi yang tinggi, d) filosofi seperti kebijakan bagaimana guru diperlukan, e) aturan, seperti tuntunan bagi guru didalam sekolah f) iklim organisasi, seperti cara para anggota sekolah berinteraksi baik internal maupun eksternal. selain beberapa manfaat diatas, manfaat lain bagi individu dan kelompok adalah : (1) meningkatkan kepuadan kerja; (2) pergaulan ;ebih akrab; (3) disiplin menigkat; (4) pengawasan fungsional bisa lebih ringan; (5) muncul keinginan untuk selalu ingin berbuat proaktif; (6) belajar dan berprestasi terus serta; dan (7) selalu ingin memberikan yang terbaik bagi sekolah, keluarga, orang lain dan diri sendiri.

I.  Implementasi
Gambaran tentang implementasi pengembangan budaya dan lingkungan sekolah di SMP Negeri 2 Cidahu kabupaten Kuningan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Penyajian temuan lapangan ini bertujuan untuk menjawab permasalahan sebagaimana yang telah kami paparkan dalam bab pendahuluan sebelumnya. Berikut ini adalah temuan lapangan yang telah dilakukan di SMP Negeri 2 Cidahu Kabupaten Kuningan tentang Program berkaitan dengan Budaya dan Iklim Sekolah yang Kondusif dan Inovatif bagi Pembelajaran Tahun Pelajaran 2015-2016 antara lain:

1   Pengembangan budaya dalam kegiatan intrakulikuler
a.       Program pengembangan budaya dalam pembelajaran dikelas
Dalam mengembangkan budaya pada proses pembelajaran guru-guru di SMP Negeri 2 Cidahu kabupaten Kuningan mengembangkannya dengan memberi salam ketika membuka dan menutup pelajaran serta memulai dan mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a memberikan contoh yang baik kepada siswa dengan bersikap sopan, ramah, dan peduli kepada para siswa serta memotivasi mereka agar menumbuhkan sikap tersebut kepada sesama, hal ini sesuai dengan dengan pernyataan salah seorang guru  yaitu :
Pengembangan budaya sekolah dalam proses pembelajaran didalam kelas dilakukan dengan cara membudayakan salam ketika membuka dan menutup pelajaran serta memulai dan mengakhiri pelajaran dengan membaca do’a.
Dari pemaparan data diatas menunjukan bahwa guru ketika berada didalam kelas tentunya berfungsi sebagai orang yang dapat membantu peserta didik dalam memahami pembelajaran. Untuk memenuhi tugas tersebut guru tidak saja harus dapat menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan harmonis, tetapi seorang guru juga perlu mengembangkan budaya sekolah seperti membiasakan memberi salam serta berdoa ketika akan memulai dan mengakhiri pembelajaran di kelas sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang berkesan bagi peserta didik yang bertujuan untuk menjadikan pembelajaran yang dapat merangsang minat mereka.
b.      Program pengembangan budaya ketika diluar kelas
Program pengembangan budaya diluar kelas yang dilakukan SMP Negeri 2 Cidahu Kabupaten Kuningan dengan melakukan pengembangan karkter siswa. Hal ini sesuai wawancara dengan seorang guru di ruang kerjaya yaitu :
Pengembangan budaya diluar sekolah dilakukan dengan kegiatan zikir bersama dan membacakan surat yasin pada setiap hari jum’at. Serta pada apel pagi bersama-sama membacakan ikrar janji siswa agar apa yang mereka ucapkan dapat mereka ingat sehingga mencegah para siswa melanggar aturan sekolah. (24/07/2015).
Dari pemaparan data diatas menjelaskan bahwa pembelajaran tidak selamanya berada didalam kelas. Maka pembelajaran diluar harus memiliki  konsep kegiatan yang jelas, sehingga bisa menjadi acuan utama untuk mendidik para siswa.
2   Pengembangan budaya dalam kegiatan ekstrakulikuler
a.       Program pengembangan budaya dalam kegiatan keolahragaan
Olahraga merupakan salah-satu bentuk kegiatan ekstrakulikuler yang mengarahkan pada olah fisik (jasmani), berdasarkan hal tersebut maka agar kegiatan olahraga benar-benar dapat dilaksanakan sebaik-baiknya dan dapat menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional, maka perlu pembinaan kegiatan ekstrakulikuler dibidang olahraga. Disamping sebagai media  pembelajaran yang dapat meningkatkan kebugaraan bagi kesehatan tubuh melalui olah tubuh  juga merupakan sarana bagi para siswa untuk dapt mengembangkan potensi, bakat dan minat yang dimilikinya, sehingga menjadi manusia yang sehat dan berprestasi, baik secara individual maupun kolektif.
Dalam pengembangan budaya sekolah melalui kegiatan olahraga di SMP Negeri 2 Cidahu Kabupaten Kuningan dilaksanakan dengan menarik minat siswa untuk berolahraga, hal ini sesuai dengan pernyataan seorang guru dalam wawancara bersamanya yaitu :
Dalam mengembangkan budaya sekolah melalui kegiatan olahraga kami memulainya dengan menarik minat para siswa untuk berolahraga. Cara kami menarik minat siswa berolah raga adalah dengan mengikutkan mereka keajang tingkat kota yang dilaksanakan oleh dinas pendidikan. Selai itu dalam kegitannya di sekolah pengembangan budaya seolah dengan menampakkan nilai kejujuran melalui olahraga, menanamkan sikap kerjasama anta tim melalui olahraga, dan menanamkan motivasi berprestasi kepada diri siswa melalui kegiatan olahraga. (24/07/2015).
Dari pemaparan data diatas menunjukan bahwa tujuan pembinaan kegiatan ekstrakulikuler dibidang olahraga disekolah adalah untuk menunjang kegiatan belajar mengajar, khususnya dibidang pembianaan bakat dan minat para peserta didik dibidang olahraga yang berkembang dimasyarakat serta untuk membentuk peserta didik yang sehat baik jasmani, jiwa dan pikirannya sehingga menjadi manusia yang betul-betul siap dan berprestasi dalam menjalani kehidupannya baik lingkungan akademis maupun masyarakat.
b.      Program pengembangan budaya dalam kegiatan kepramukaan
Dalam mengembangkan budaya sekolah melalui kegiatan kepramukaan, SMP Negeri 2 Cidahu kabupaten Kuningan dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai kepada para siswa. Hal ini diungkapkan seorang guru dalam wawancara bersamanya yaitu :
Pengembangan budaya sekolah melalui kegiatan kepramukaan disekolah kami lakukan dengan menanamkan nilai-nilai kedisiplin, tanggungjawab, kemadirian, kebersamaa, kepemimpinan, serta rasa cinta terhadap alam. (24/07/2015).
Dari pemaparan data diatas menunjukan bahwa gerakan pramuka berfungsi sebagai lembaga diluar sekolah dan sekaligus merupakan wadah pembianaan para generasi dengan menggunakan prisnsip dasar kepramukaan. Metode kepramukaan ikut serta secara aktif mendidik para siswa agar dapat menjadi kader bangsa yang bertanggungjawab atas tercapainya perjuangan tujuan pembangunan nasional. Pramuka didalamnya selalu ada kegiatan yang berhubungan dengan alam. Jika dikaitkan dengan mempelajari disekolah jenis kegiatan pramuka secara tidak langsung berhubungan dengan mapatelajaran ilmu pengetahuan sosial.



c.       Program pengembangan budaya dalam kegiatan kesenian
Dalam pengembangan budaya sekolah melalui kegiatan kesenian, SMP Negeri 2 Cidahu kabupaten Kuningan menanamkan rasa kecintaan siswa terhadap budaya dan kesenian daereah, hal ini sesuai dengan pernyataan seorang guru dalam wawancara bersamanya yaitu :
Melalui kegiata kesenian kami menanamkan rasa kecintaan siswa terhadap budaya daerah dengan membuat kegiatan pada setiap akhir semester dimana para siswa diwajibkan menampikan suatu atraksi baik tari-tarian maupun kasidah serta memakai pakaian adat daerah yang ingin mereka tampikan. Kegiatan ekstrakulikuler kesenian diselenggarakan diharapkan agar siswa meperoleh pengalaman berpretasi dan berkreasi. (24/07/2015).
Dari pemaparan data diatas menunjukan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari pendidikan karena kedudukannya dapat menjadi media untuk membangun karakter yang halus, mempunyai kepekaan, rasa kemanusiaan, kerjasama, kepedulian, serta penyaluran gagasan dan imajinasi secara kreatif dan indah. Kesenian mempunyai daya kemampuan yang luar biasa untuk mengasah logika dan retorika berpikir. Hanya saja dalam kebanyakan kasus, kemampuan kesenian ini belum spenuhnya disadari masyarakat, melalui ekstrakulikuler kesenia ini, diharapkan mampu menciptakan sumber daya manusia yang mempunyai kecakapan menyikapi perubahan kini dan masa yang akan datang.
3.   Simbol-simbol budaya sekolah dalam memperkuat  nilai-nilai SMP Negeri 2 Cidahu kabupaten Kuningan dalam memperkuat nilai-nilai melalui simbol-simbol dengan menanamkamkan kebiasaan baik kepada siswa ketika berada dilingkungan sekolah. Hal ini sesuai pernyataan seorang guru melalui wawancara yatiu :
            Sekolah membuat simbol-simbol budaya sekolah berbentuk tulisan atau gambar yang bertujuan untuk menanamkan kebiasaan baik seperti memberi salam, membuang sampah pada tempatya, mencuci tangan,  dll. kepada siswa apabila mereka berada dilingkungan sekolah, sehingga mereka dapat membaca simbol-simbol tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat memperkuat nilai-nilai yang ingin dikembangkan sekolah. (24/07/2015).

Dari pemaparan data diatas menunjukan  bahwa simbol-simbol sangat berguna dalam menggantikan guru ketika mereka sedang berada diluar kelas memberikan suatu pengingat kepada siswa agar mereka selalu ingat dengan aturan aturan yang ada disuatu sekolah.
4.   Dampak Budaya Sekolah Terhadap Iklim Sekolah
Dampak pengembangan budaya sekolah terhadap iklim sekolah di SMP Negeri 2 Cidahu Kabupaten Kuningan ditandai dengan peningkatan kualitas lingkungan internal sekolah yang dialami oleh siswa maupun kepala sekolah dan para guru yang mempengaruhi mental dan perilakunya. Hal ini diungkapkan oleh seorang guru dalam wawancara bersamanya yaitu :
Pengembangan budaya sekolah yang telah dilakukan berdampak positif  bagi  iklim sekolah kami baik dirasakan oleh para siswa maupun kepala sekolah serta para guru dimana terlihat para guru bersemangat untuk mengajar para siswa, bekerja sama serta terjalinnya komunikasi yang baik. Sedangkan para siswa terlihat sangat senang menerima pelajaran, memperlihatkan kreativitas mereka, dan  mematuhi norma-norma yang ada dilingkungan sekolah. (24/07/2015).
          Dari pemaparan data diatas menunjukan iklim sekolah merujuk kepada hati dan jiwa dari sebuah sekolah, psikologis dan atribut institusi yang menjadikan sekolah memiliki kepribadian, yang relatif bertahan dan dialami oleh seluruh anggota, yang menjelaskan persepsi kolektif dari perilaku rutin, dan akan mempengaruhi sikap dan perilaku di sekolah
5.   Pengembangan budaya pada lingkungan sekolah
a.       Program pengembangan budaya pada lingkungan internal
Dalam mengembangkan budaya sekolah melalui lingkungan internal SMP Negeri 2 Cidahu Kabupaten Kuningan selalu menanamkan nilai-nilai. Hal ini seperti pernyataan seorang guru dalam wawancara bersamanya yaitu :
Pengembangan budaya dalam lingkungan internal sekolah dilakukan dengan memasang simbol-simbol di lingkungan sekolah seperti yang berhubungan dengan kebersihan.“Buanglah Sampah Pada Tempatnya” atau “yuuk  kita cuci tangan dengan air bersih dan sabun”, Menanamkan nilai-nilai kesopanan dengan memasang simbol-simbol seperti “Biasakanlah Salam Senyum Sapa” dan keindahan kepada siswa dengan memasang simbol-simnol seperti “Jangan Biarkan Lingkungan Sekolahmu Kotor”. (24/07/2015).
Dari pemaparan data diatas mejelaskan  keindahan dan kebersihan lingkungan akan berdampak pada motivasi belajar siswa dan kesopanan akan berdampak dalam menjaga nama baik sekolah. Oleh sebab itu lingkungan sekolah merupakan salah satu tempat yang paling umum digunakan sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dan lingkungan sekolah paling dianggap dapat menanamkan nilai-nilai serta aturan yang sesaui dengan masyarakat.


b.      Program pengembangan budaya pada lingkungan eksternal
Pangembangan budaya sekolah melalui lingkungan eksternal di SMP Negeri 2 Cidahu kabupaten Kuningan dilakukan dengan menjalin hubungan kerjasama dengan masyarakat. Hal ini sesuai pernyataan seorang guru dalam wawancara diruang kerjanya yaitu :

Pengembangan budaya di lingkungan eksternal sekolah kami lakukan dengan menjalin kerjasama yang baik dengan pihak orangtua siswa serta melibatkan para siswa pada setiap kegiatan yang diselenggarakan di luar sekolah. (24/07/2015).
Dari pemaparan data diatas menjelaskan bahwa sebagai sekolah yang bernaung dalam suatu wilayah eksternal yang disebut masyarakat. Maka gejala timbal balik baik dari sekolah kepada masyarakat maupun sebaliknnya merupakan realitas keseharian yang akan selalu terjadi. Apalagi keberadaan sekolah berada dilingkungan masyarakat kota yang perkembangan baik ilmu dan teknologi kian pesat.

J.  Kendala-Kendala
Lembaga pendidikan merupakan salah-satu sistem organisasi yang bertujuan membuat perubahan kepada para peserta didik agar lebih baik, cerdas, beriman, bertaqwa, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan dan siap menghadapi perkembangan zaman. Sebagai bagian dari organisasi, lembaga penddikan diperlukan pengelolaan budaya yang sesuai dengan budaya masing-masing lembaga tersebut. Namun dalam proses pencapaian tujuan tesebut seringkali dihampiri oleh kendala-kendala yang akan dihadapi. berikut beberapa temuan yang bisa kita lihat terkait kendala yang di hadapi di SMP Negeri Cidahu kabupaten Kuningan meskipun tidak terlihat secara meyeluruh terhadap aspek budaya yang dikembangkan. Hal yang menjadi kendala tersebut adalah masih terdapat kebiasaan para siswa yang datang terlambat. Hal ini disebabkan ada beberapa anak yang jarak rumahnya jauh harus sekolah ditempat tersebut karena menyesuaikan dengan tempat kerja orangtuanya serta adanya orang tua siswa yang masih kurang peduli terhadap keterlambatan anak-anak mereka.
Berdasarkan kendala yang dikemukakan diatas Sekolah telah melakukan tindakan dalam mengatasi kendala tersebut dengan memberikan daftar aktifitas siswa dirumah untuk mengetahui penyebab mereka terlambat, membuat daftar keterlambatan siswa agar dapat dilihat siswa yang sering terlambat setelah itu mengundang orangtua mereka untuk dicarikan solusi agar siswa tersebut tidak telambat lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar